New Update :

Mendapatkan bayaran dari upload foto atau gambar

Get Paid to Draw
Upload Foto Dibayar, Mau?
Tak perduli Anda adalah seorang fotografer handal dan mumpuni atau pun seorang amatir yang punya kamera dan hobi 'jeprat-jepret', atau jika anda seorang yang hoby membuat gambar dengan coreldraw atau aplikasi lainnya. Anda bisa dapat uang dari foto-foto dan gambar yang anda hasilkan

Jadi, jika Anda merasa bisa menghasilkan foto atau gambar yang bagus dan menarik, dan saat sudah punya banyak stok image, kenapa tidak mengikuti program ini? Anda akan mendapat penghasilan mudah dari mengikuti program ini hanya dengan upload foto.

Pada dasarnya, cara kerja program ini adalah: tinggal mengunggah foto-foto yang Anda punya, kemudian dipajang oleh penyedia program, dan jika ada orang yang tertarik dengan foto tersebut, mereka kemudian mendownload atau membelinya. Nah, maka otomatis Anda akan mendapatkan uang dari foto tersebut. Mudah sekali bukan? Jika beruntung, bahkan foto tersebut bisa dihargai ratusan dolar oleh orang yang berminat.

Tapi, sebelum mengikuti program ini, ada beberapa hal yang mesti jadi perhatian:

upload foto dapat uang
  • Pastikan foto yang upload memiliki resolusi di atas 4 megapixel
    Di bawah itu biasanya tidak bisa diterima. Karena, anggap saja orang memerlukan foto itu untuk berbagai keperluan yang butuh resolusi tinggi.
  • Anda harus client oriented, artinya pikirkan apa yang mereka butuhkan
    Jadi, foto harus 'clean', tidak boleh ada frame, juga tidak boleh ada tulisan, logo, atau apapun selain foto itu sendiri.
  • Minimal harus menyiapkan 10 foto untuk diunggah
    Beberapa situs mengharuskan Anda mengupload minimal 10 foto untuk satu kali keikutsertaan.
Bagaimana? Tertarik mendapatkan uang hanya dengan upload foto?

Jika tertarik silahkan anda Klik Disini Daftarkan diri anda lalu upload gambar yang anda miliki jika ada orang yang mendowload gambar anda maka anda akan mendapatkan dollar..

Mengisi saldo payoneer dengan CPA clicksure

Cara mengisi saldo Payoneer
Clicksure dan Clickbank sekarang ini bisa membayar pendapatan kita via ATM Master Card dari Payoneer, Sehingga tidak perlu memakai cek lagi dan tak perlu memiliki rekening bank untuk memperoleh income.

Berikut tips mendapatkan saldo/balance payoneer melalui clicksure

1. Silahkan join gratis pada Clicksure.com

- Panduan singkat mendaftar Clicksure:
  • Silahkan register affiliate di Clicksure di sini
  • Isi dan Buat nama username, password, firstname, lastname dan email anda
  • Klik “Create My Account” dan cek email anda lalu aktifkan pendaftaran.
  • Login ke Clicksure affiliate account dan segera upload data verifikasi berupa SCAN KTP atau SIM dan rek listrik atau air agar nanti pembayaran komisi dari clicksure bisa langsung di proses.
Pastikan nama, alamat dan data lainnya sesuai KTP anda dan buat account nickname atau username sebagai ID anda nanti.

2. Cara mencari produk clicksure untuk di promosikan
Sebaiknya anda mencari produk CPA di clicksure yang membayar sampai $300 Per customer atau produk clickbank dengan komisi 50% lebih dan nilai komisinya lebih dari $10/sale.

=> Cara mencari produk di Clicksure dengan komisi sampai $300/CPA
  • Login ke Clicksure affiliate
  • Klik menu “Marketplace“
  • Pilih produk dengan komisi Type = CPA dan klik nama produk itu
  • Dapatkan link produk untuk anda promosikan di bagian Default link = ….
  • Simpan link tersebut dan anda bisa promosikan untuk memperoleh komisi CPA.
  • Anda bisa mencari beberapa produk sesuai Categories dan pilih yang CPA atau CPL yang tanpa perlu menjual produk apapun.
Beberapa Contoh produk CPA Clicksure :
Beberapa contoh produk CPL di clicksure :
contoh produk revshare :
Silahkan cek dulu masing-masing link di atas, join dan lihat apa produk yang di tawarkan, sehingga anda tahu isi penawarannya

Promosikan link-link Produk CPA dan CPL di clicksure dan dapatkan komisi sebanyak mungkin. Jika anda mempromosikan produk CPA dengan komisi $300 per customer dan bisa mendapatkan 1 customer saja dalam seminggu maka anda bisa memperoleh komisi $300 per minggu atau Rp 3.000.000 per minggu.

Amalan puasa yang sia sia

Banyak kaum muslimin yang bahagia menyambut bulan suci Ramadhan. Menyambutnya dengan berbagai macam ekspresi dan tingkat kebahagiaan. Kemudian melaksanakan puasa di bulan tersebut dengan penuh semangat menahan diri dari makan dan minum. Akan tetapi sebagian kaum muslimin hanya fokus kepada menahan diri dari makan dan minum saja. Perlu diketahui bahwa ada beberapa hal yang bisa membuat puasa seseorang menjadi sia-sia atau minimal pahalanya berkurang dan sebagian kaum muslimin kurang paham mengenai hal ini, meskipun sudah berletih dengan meninggalkan makan, minum, dan hubungan biologis.

Karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani, shahih lighairihi)

Berikut beberapa hal yang menyebabkan puasa menjadi sia-sia, pahalanya berkurang, atau tidak berpahala sama sekali.
  • Niat puasa yang tidak ikhlas

    Bisa jadi seseorang niat puasanya hanya sekedar ikut-ikutan atau bahkan gengsi kalau tidak puasa. Atau puasa karena nanti ada acara buka bersama, padahal sebelumnya ia malas puasa.

    Maka hendaknya puasa kita niatkan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala, dan setiap orang diberi ganjaran sesuai dengan niatnya (puasa).

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Berkata-kata yang tidak baik dan berkata kotor

    Ada dari sebagian kaum muslimin mungkin ia mampu menahan lapar dan dahaga, akan tetapi belum tentu ia mampu menahan lisannya. Selama puasa ia sering berkata-kata yanga tidak baik, berkata kotor, menggunjing, menggibah, dan mengadu domba. Bahkan ada yang beteriak-teriak tidak jelas tujuannya dan membuang-buang energi pada hal yang sia-sia.

    Hal ini sebaiknya kita hidari selama berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor, berteriak-teriak (bertengkar), dan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mencela atau mengajaknya bertengkar maka katakanlah : ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa (dua kali)’” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Menjaga ucapan tidak hanya diperintahkan ketika berpuasa saja, akan tetapi di setiap tempat dan setiap waktu. Larangan Rasulullah tersebut menunjukkan agungnya ibadah puasa.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dan memang lisan adalah kunci keselamatan seseorang, ketika ia bisa menjaga lisannya, maka selamatlah ia.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya. (HR. Bukhari)

    Dan termasuk dalam hal ini adalah berkata-kata dusta. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan langsung mengenai hal ini,

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)

    Dan termasuk di dalamnya juga adalah banyak berkata-kata yang sia-sia, tidak jelas, dan tidak bermanfaat. Begitu juga dengan perkataan -yang maaf- “jorok dan porno”. Hal ini sangat dilarang bagi orang yang sedang berpuasa.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan laghwu (sia-sia-red) dan rofats (jorok-red). Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah, shahih)
  • Sering melakukan kemaksiatan dan tidak berusaha melawan dan menguranginya

    Telah kita ketahui bahwa puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga menahan diri dari syahwat, menahan diri dari perbuatan maksiat. Ada sebagian kaum muslimin tetap melakukan kemaksiatan yang sering ia lakukan, ia tidak berusaha mengurangi atau melawannya, ia tidak memanfaatkan momentum puasa Ramadhan untuk lepas dari kebiasaannya tersebut.

    Hikmah berpuasa adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa, menjadi orang yang takut kepada Allah ketika akan bermaksiat. Sebagaimana yang Allah firmankan (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa juga telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al Baqarah : 183)

    Contoh kemaksiatan yang sering dilakukan adalah durhaka kepada orang tua, ghibah, merokok, dan masih banyak contoh yang lainnya.

    Sering kita lihat bahwa orang-orang tetap merokok selama puasa. Atau jika tidak merokok, ketika berpuasa, dia segera merokok ketika berbuka puasa atau ketika sahur misalnya. Merokok jelas merupakan keharaman karena bisa merusak kesehatan dan membinasakan diri sendiri dan juga orang lain. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“ (QS. Al Baqarah : 195)

    Dan sudah sangat jelas -bahkan tercantum dalam bungkus rokok- bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan. Kita tidak boleh berbuat hal yang bahaya dan membahayakan. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang lain” (HR. Ibnu Majah, shahih)

    Demikian juga kemaksiatan yang lainnya, maka hendaknya seorang muslim berusaha melawannya dan meminimalkannya.
Penutup

Hendaknya kita benar-benar memperhatikan puasa kita karena ibadah puasa adalah ibadah yang istimewa di mana Allah sendiri yang akan membalasnya dengan pahala yang telah Allah janjikan sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi, “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”” (HR. Ahmad, shahih)

Penulis : Ustadz dr. Raehanul Bahraen (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

Makna Ketuhanan Yang Maha Esa

KAMUS BAHASA INDONESIA: DEFINISI "ESA" ADALAH tunggal; satu;
DAN DEFINISI "MAHA ESA" ADALAH amat tunggal (Allah).

Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4
(yang artinya) :
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

MAKNA TAUHID SURAT AL IKHLAS UTK SELURUH UMAT

Surat ini dinamakan Al Ikhlas karena di dalamnya berisi pengajaran tentang tauhid. Oleh karena itu, surat ini dinamakan juga Surat Al Asas, Qul Huwallahu Ahad, At Tauhid, Al Iman, dan masih banyak nama lainnya.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan bahwa Surat Al Ikhlas ini berasal dari ’mengikhlaskan sesuatu’ yaitu membersihkannya/memurnikannya. Dinamakan demikian karena di dalam surat ini berisi pembahasan mengenai ikhlas kepada Allah ’Azza wa Jalla. Oleh karena itu, barangsiapa mengimaninya, dia termasuk orang yang ikhlas kepada Allah.

Ada pula yang mengatakan bahwa surat ini dinamakan Al Ikhlash (di mana ikhlash berarti murni) karena surat ini murni membicarakan tentang Allah. Allah hanya mengkhususkan membicarakan diri-Nya, tidak membicarakan tentang hukum ataupun yang lainnya. Dua tafsiran ini sama-sama benar, tidak bertolak belakang satu dan lainnya. (Lihat Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah, 97)

Asbabun Nuzul

Surat ini turun sebagai jawaban kepada orang musyrik yang menanyakan pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Sebutkan nasab atau sifat Rabbmu pada kami?’. Maka Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Katakanlah kepada yang menanyakan tadi, … [lalu disebutkanlah surat ini]’(Aysarut Tafasir, 1502). Juga ada yang mengatakan bahwa surat ini turun sebagai jawaban pertanyaan dari orang-orang Yahudi (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim, Tafsir Juz ‘Amma 292). Namun, Syaikh Muqbil mengatakan bahwa asbabun nuzul yang disebutkan di atas berasal dari riwayat yang dho’if (lemah) sebagaimana disebutkan dalam Shohih Al Musnad min Asbab An Nuzul.

[3:85] Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

[3:85] And whoever desires a religion other than Islam, it shall not be accepted from him, and in the hereafter he shall be one of the losers.

TAFSIR IBNU KATSIR

"Barang Siapa Mencari Agama Selain Agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama (agama itu) darinya", maksudnya barangsiapa menempuh jalan selain yang telah disyari'atkan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya.

"Dan di Akhirat termasuk orang-orang yang rugi" sebagaimana yang disabdakan Rasulullah dalam hadits shahih :

"Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami, maka amalan itu ditolak"
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Ali-'Imran:18-19)

(http://www.islamcocg.com/id/index.php?option=com_content&view=article&id=63:islam-agama-para-nabi-dan-rasul&catid=19)

(http://www.voa-islam.com/islamia/konsultasi-agama/2010/03/23/4226/benarkah-agama-para-nabi-tidak-semuanya-islam/)

(http://abumushlih.com/agama-para-nabi-dan-rasul.html/)

KETUHANAN YANG MAHA ESA DAN PIAGAM JAKARTA

Jika dicermati dengan jujur, rumusan sila Ketuhanan Yang Maha Esa ada kaitannya dengan pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta: Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Bung Hatta yang aktif melobi tokoh-tokoh Islam agar rela menerima pencoretan tujuh kata itu, menjelaskan, bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah Allah, tidak lain kecuali Allah. Sebagai saksi sejarah, Prof. Kasman Singodimedjo, menegaskan: “Dan segala tafsiran dari Ketuhanan Yang Maha Esa itu, baik tafsiran menurut historisnya maupun menurut artinya dan pengertiannya sesuai betul dengan tafsiran yang diberikan oleh Islam.” (Lihat, Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hal. 123-125.)

Lebih jelas lagi adalah keterangan Ki Bagus Hadikusuma, ketua Muhammadiyah, yang akhirnya bersedia menerima penghapusan “tujuh kata” setelah diyakinkan bahwa makna Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Tauhid. Dan itu juga dibenarkan oleh Teuku Mohammad Hasan, anggota PPKI yang diminta jasanya oleh Hatta untuk melunakkan hati Ki Bagus. (Siswanto Masruri, Ki Bagus Hadikusuma, (Yogyakarta: Pilar Media, 2005).

Sebenarnya, sebagaimana dituturkan Kasman Singodimedjo, Ki Bagus sangat alot dalam mempertahankan rumusan “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Sebab, rumusan itu dihasilkan dengan susah payah. Dalam sidang-sidang BPUPK, Ki Bagus dan sejumlah tokoh Islam lainnya juga masih menyimpan ketidakpuasan terhadap rumusan itu. Ia, misalnya, setuju agar kata “bagi pemeluk-pemeluknya” dihapuskan. Tapi, karena dalam sidang PPKI tersebut, sampai dua kali dilakukan lobi, dan Soekarno juga menjanjikan, bahwa semua itu masih bersifat sementara. Di dalam sidang MPR berikutnya, umat Islam bisa memperjuangkan kembali masuknya tujuh kata tersebut. Di samping itu, Ki Bagus juga mau menerima rumusan tersebut, dengan catatan, kata Ketuhanan ditambahkan dengan Yang Maha Esa, bukan sekedar “Ketuhanan”, sebagaimana diusulkan Soekarno pada pidato tanggal 1 Juni 1945 di BPUPK. Pengertian inilah yang sebenarnya lebih masuk akal dibandingkan dengan pengertian yang diajukan berbagai kalangan. (Ibid).

Dalam bukunya, "Islam dan Politik, Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin" (1959-1965), (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif juga mencatat, bahwa pada 18 Agustus 1945, Soekarno sebenarnya sangat kewalahan menghadapi Ki Bagus. Akhirnya melalui Hatta yang menggunakan jasa Teuku Mohammad Hasan, Ki Bagus dapat dilunakkan sikapnya, dan setuju mengganti “tujuh kata” dengan “Yang Maha Esa”. Syafii Maarif selanjutnya menulis: “Dengan fakta ini, tidak diragukan lagi bahwa atribut Yang Maha Esa bagi sila Ketuhanan adalah sebagai ganti dari tujuh kata atau delapan perkataan yang dicoret, disamping juga melambangkan ajaran tauhid (monoteisme), pusat seluruh sistem kepercayaan dalam Islam.” Namun tidak berarti bahwa pemeluk agama lain tidak punya kebebasan dalam menafsirkan sila pertama menurut agama mereka masing-masing. (hal. 31).

Tentang makna Ketuhanan Yang Maha Esa identik dengan Tauhid, juga ditegaskan oleh tokoh NU KH Achmad Siddiq. Dalam satu makalahnya yang berjudul “Hubungan Agama dan Pancasila” yang dimuat dalam buku Peranan Agama dalam Pemantapan Ideologi Pancasila, terbitan Badan Litbang Agama, Jakarta 1984/1985, Rais Aam NU, KH Achmad Siddiq, menyatakan:

“Kata “Yang Maha Esa” pada sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) merupakan imbangan tujuh kata yang dihapus dari sila pertama menurut rumusan semula. Pergantian ini dapat diterima dengan pengertian bahwa kata “Yang Maha Esa” merupakan penegasan dari sila Ketuhanan, sehingga rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu mencerminkan pengertian tauhid (monoteisme murni) menurut akidah Islamiyah (surat al-Ikhlas). Kalau para pemeluk agama lain dapat menerimanya, maka kita bersyukur dan berdoa.” (Dikutip dari buku Kajian Agama dan Masyarakat, 15 Tahun Badan Penelitian dan Pengembangan Agama 1975-1990, disunting oleh Sudjangi (Jakarta: Balitbang Departemen Agama, 1991-1992).
Kata “Allah” juga muncul di alinea ketiga Pembukaan UUD 1945: “Atas berkat rahmat Allah….”. Sulit dibayangkan, bahwa konsepsi Allah di situ bukan konsep Allah seperti yang dijelaskan dalam al-Quran. Karena itu, tidak salah sama sekali jika para cendekiawan dan politisi Muslim berani menyatakan, bahwa sila pertama Pancasila bermakna Tauhid sebagaimana dalam konsepsi Islam. Rumusan dan penafsiran sila pertama Pancasila jelas tidak bisa dipisahkan dari konteks sejarah munculnya rumusan tersebut.

Kaum Muslim perlu mencermati kemungkinan adanya upaya sebagian kalangan untuk menjadikan Pancasila sebagai alat penindas hak konsotistusional umat Islam, sehingga setiap upaya penerapan ajaran Islam di bumi Indonesia dianggap sebagai usaha untuk menghancurkan NKRI. Dalam ceramahnya saat Peringatan Nuzulul Quran, Mei 1954, Natsir sudah mengingatkan agar tidak terburu-buru memberikan vonis kepada umat Islam, seolah-olah umat Islam akan menghapuskan Pancasila. Atau seolah-olah umat Islam tidak setia pada Proklamasi. ”Yang demikian itu sudah berada dalam lapangan agitasi yang sama sekali tidak beralasan logika dan kejujuran lagi,” kata Natsir. Lebih jauh Natsir menyampaikan, ”Setia kepada Proklamasi itu bukan berarti bahwa harus menindas dan menahan perkembangan dan terciptanya cita-cita dan kaidah Islam dalam kehidupan bangsa dan negara kita”

Contoh penyimpangan penafsiran Pancasila pernah dilakukan dengan proyek indoktrinasi melalui Program P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Pancasila bukan hanya dijadikan sebagai dasar Negara. Tetapi, lebih dari itu, Pancasila dijadikan landasan moral yang seharusnya menjadi wilayah agama. Penempatan Pancasila semacam ini sudah berlebihan. Di Majalah Panji Masyarakat edisi 328/1981, mantan anggota DPR dari PPP, Ridwan Saidi pernah menulis kolom berjudul ”Gejala Perongrongan Agama”. Sejarawan dan budayawan Betawi ini mengupas dengan tajam pemikiran Prof. Dardji Darmodiharjo, salah satu konseptor P-4.

”Saya memandang sosok tubuhnya pertama kali adalah pada kwartal terakhir tahun 1977 pada Sidang Paripurna Badan Pekerja MPR, waktu itu Prof. Dardji menyampaikan pidato pemandangan umumnya mewakili Fraksi Utusan Daerah. Pidatonya menguraikan tentang falsafah Pancasila. Sudah barang tentu uraiannya itu bertitik tolak dari pandangan diri pribadinya belaka. Dan sempat pula pada kesempatan itu Prof. Dardji menyampaikan kejengkelannya ketika katanya pada suatu kesempatan dia selesai ceramah tentang sikap hidup Pancasila, seorang hadirin bertanya padanya bagaimana cara gosok gigi Pancasila.”

Kuatnya pengaruh Islamic worldview dalam penyusunan Pembukaan UUD 1945 – termasuk Pancasila – terlihat jelas dalam sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Manusia Indonesia harus bersikap adil dan beradab. Adil dan adab merupakan dua kosa kata pokok dalam Islam yang memiliki makna penting. Salah satu makna adab adalah pengakuan terhadap Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Muhammad saw sebagai Nabi, utusan Allah. Menserikatkan Allah dengan makhluk – dalam pandangan Muslim – bukanlah tindakan yang beradab.

Meletakkan manusia biasa lebih tinggi kedudukannya dibandingkan utusan Allah SWT tentu juga tidak beradab. Menempatkan pezina dan penjahat lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan orang yang bertaqwa, jelas sangat tidak beradab.

Sumber : https://www.facebook.com/notes/-muallaf-/makna-ketuhanan-yg-maha-esa-adalah-tauhid/220252278003322
Copyright © 2011 Sip Online | Powered by Blogger