Seni pertunjukan Theater Uyeg

Pertunjukan theater uyeg
Ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji dalam seni pertunjukan Teater Uyeg Sukabumi . Terutama dalam bentuk aspek visual properti Oncor (damar), meskipun sederhana namun menyimpan sesuatu yang berkaitan dengan interpretasi simbol-simbol serta memiliki makna, estetis dan praktis yang mempengaruhi dalam perkembangan jenis seni pertunjukan Teater Uyeg Sukabumi.

Eksistensi dan transformasi seni pertunjukan Teater Uyeg terletak pada kemampuan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap hiburan. Masyarakat sebagai penyangga kebudayaan diberi peluang untuk gerak, mencipta, memelihara, menularkan, serta mengembangkan suatu budaya untuk kemudian hari, melahirkan bentuk budaya yang baru.

Seni pertunjukan Teater Uyeg yang terancam punah, adalah bentuk seni tradisi yang perlu dilestarikan, meskipun sekarang mengalami perubahan atau pergeseran, termasuk aspek visual properti Oncor. Teater Uyeg dari Jawa Barat ini memang sudah selayaknya untuk dikembangkan dan dilestarikan keberadaannya.

Kesenian hasil revitalisasi Anis Djatisunda, dari teater Uyeg Abah Ita Citepus Sukabumi merupakan pertunjukan Uyeg yang sangat berbeda dengan genre teater rakyat lainnya. Hal itu disebabkan karena hadirnya tokoh sakral Sanghyang Raja Uyeg di panggung pertunjukan. Pemahaman arti Sanghyang sebagai julukan terhormat (honorific epithet) di dalam mitologi Sunda merupakan gelar seseorang atau sesuatu yang dianggap memiliki daya gaib yang bersifat transendental dan biasanya sinonim dengan sebutan dewa dalam religi Hinduisme. Tokoh ini hanya muncul tiga kali sepanjang pertunjukan dan memiliki kedudukan terhormat sebagai penguasa jagat Uyeg. Di dalam Uyeg, tokoh Sanghyang Raja Uyeg dimainkan oleh seorang pemain, tidak sebagai shaman. Namun bias arkais dengan Uyeg lama, masih terdapat pada pra pertunjukannya, yakni pembakaran kemenyan dengan pembacaan mantra Panajem (mantra pengikat penononton), dan memakai setting, gambaran tiga dunia (imago mundi), yakni dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Di dalam penyajiannya teater Uyeg disajikan sebagai hiburan namun masih tetap mempertahankan idiom teater asalnya (Uyeg lama) dengan unsur-unsur di antaranya Tokoh Sanghyang Raja Uyeg, Kain Peundeung hitam putih, Ronggeng Kembang dan ronggeng Panyeta, mantra Panajem, dan cerita tiga dunia (dunia atas, dunia, dan dunia bawah).
Sumber referensi : www.disparbud.jabarprov.go.id
Selanjutnya
« Sebelumnya
Sebelumnya
Selanjutnya »